Bangbung Hideung Blog's



Pemilihan umum legislatif tinggal beberapa hari lagi pernak-pernik alat peraga kampanyepun sudah jauh-jauh hari bayak di temukan hampir disemua daerah terutama di tempat-tempat setrategis yang bayak dilalui oleh orang terutama di pinggir-pinggir jalan raya seperti pemasangan di papan reklame yang tentunya biaya nya mahal dan juga memasang di sembarang tempat seperti di pohon, tiang listrik, dinding rumah warga yang terkadang tanpa seijin dari si pemilik rumah.
Pemasangan alat peraga kampanye yang sembarangan tersebut tentunya merusak keindahan membuat lingkungan terkesan kotor dan kumuh namun sangant di sayangkan sekali tidak ada keperdulian sama sekali akan hal tersebut mungkin mereka beranggapan agar lebih menghemat biaya dan mungkin mereka berfikir juga bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak hanya dirinya saja yang melakukan hal itu melainkan semua calon pun melakukan hal demikin. Nah rasa kebersamaan dalam keburukan inilah yang mesti diwaspadai oleh para pemilih untuk memilih wakil rakyat yang akan mewakilinya nanti, karena setiap kesalahan yang di lakukan bersama-sama akan di anggap wajar dan bukan tidak mungkin kelak akan ada yang namanya korupsi masal.
Mengenai pemilu legislatif tanggal 9 April 2014 nanati jujur saya belum kenal dengan sosok para calon di daerah pemilihan saya, walaupun iklan-iklan di media dan alat peraga kampanye yang mereka pasang itu bayak akan tetapi hanya sekedar memperkenalkan dirinya saja lewat poster dan baliho tanpa turun langsung kelapangan untuk memperkenalkan dan mendengarkan apa keluhan langsung dari para calon pemilih nya sehingga para pemilih tidak mengenal secara langsung sosok mereka karena dalam alat peraga kampanyenya kebayakan  mereka hanya menuliskan nama, partai pengusung, dan berjenji akan membela rakyat padahal memang sudah kewajibanya kalau sudah terpilih nanti.
Dari sekian banyak nya calon anggota legislatif dari masing-masing partai menurut iklan di alat peraga kampanye yang mereka pasang memiliki berbagai latar belakang ada yang dari artis, anak pejabat, kaum buruh, kaum muda, para pedagang kecil mungkin karena kesadaran berpolitik masyarakat sekarang ini sudah tinggi. Dan karena kebetulan di daerah tempat tinggal saya merupakan daerah industri yang tentu nya kaum buruh nya bayak maka bayak di jumpai calon-calon dari kaum buruh yang di selogan-selogan janji kampanye nya membela rakyat buruh, memperjuangkan hapus Outsourching, tolak upah murah, dan jaminan kesehatan seluruh rakyat.
Nah dari itu juga kita harus jeli dalam menetukan pilihan jangan hanya karena latar belakang mereka itu ada yang sama dengan kita, maka kita beranggapan akan benar-benar mewakili kita kelak apabila mereka itu terpilih dan duduk sebagai anggota legislatif. Kita harus tau rekam jejak si caleg tersebut sejauhmana kapasitas, intelektualitas, komitmen dan integritas yang dimilikinya. Karena kita yakin kalau memeang calon legislatif tersebut memiliki modal rekam jejak yang bagus seperti yang tadi disebutkan pastilah calon legislatif tersebut memiliki kemampuan untuk mewujudkan janji-janji nya ketika terpilih nanti. Jangan samapi justru calon tersebut memiliki integritas dan rekam jejaknya lebih berorintasi pada motif ekonomi yaitu mencari pekerjaan baru yang memiliki penghasilan lebih besar.
Jika tujuan mereka demikian sangatlah berbahaya karena kalau sudah tujuan nya untuk mencari kerja yang memiliki penghasilan yang lebih besar maka kelak apa bila mereka terpilih sebagai anggota legislatif mereka akan bekerja apa bila mereka anggap menguntungkan bagi mereka sendiri. Dari itulah kita harus pintar, cermat dan jeli dalam memilih para calon anggota legislatif, bukan berarti para calon legislatif dari kalangan bawak itu tidak baik haya saja kita harus cermat dalam memilih para calon legislatif dari kalangan apapun agar kelak kita tidak merasa di bohongi oleh para calon legislatif yang kita pilih.
Terakhir pesan dari saya untuk kita semua bahwa sesulit apapun kita menentukan pilihan ditengah kerisis kepercayaan seperti sekarang ini karena seringnya kepercayaan yang kita berikan di salah gunakan oleh oknum-oknum anggota dewan disana kita harus yakin masih ada orang baik, jujur dan benar-benar bekerja untuk rakyat haya saja kita mesti pandai mencari informasi dan menilai apakah mereka itu akan benar benar mewakili kita. Jangan golput karena masadepan bangsa ini ada ditangan kita gunakan hak suara kita untuk menghasilkan pemimpin yang benar-benar membela tidak hanya kita melainkan bangsa dan negara kita.


Read More …

PERJUANGAN IBU FATMAWATI



Oleh:
Nana Sutrisna
15111086
3KA42


Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer & Teknologi Informasi
Universitas Gunadarma
2013
PERJUANGAN IBU FATMAWATI



Oleh:
Nana Sutrisna
15111086
3KA42


Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer & Teknologi Informasi
Universitas Gunadarma
2013
PERJUANGAN IBU FATMAWATI

A.      Lahirnya Seorang Pejuang Wanita Sejati
Orang boleh beranggapan, bahwa bengkulu masih tergolong wilayah periferal (wilayah pinggiran) yang dianggap jauh dari arus aktifitas kehidupan baik politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Akan tetapi sejarah telah membutktikan, bahwa di Bengkulu inilah telah banyak melahirkan tokoh-tokoh patriotik yang mampu mengukir namanya di panggung sejarah Nasional. Dan di Bengkulu inilah telah dilahirkan seorang anak perempuan yang ternyata dikelak kemudian hari menjadi seorang ibu negara (first lady) Republik Indonesia, dan terlibat langsung dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Di tengah-tengah merebaknya semangat patriotik serta bergolaknya pergerakan nasional, telah lahir seorang anak perempuan yang manis, tepatnya pada hari Senin, jam 12.00 (WIB) pada tanggal 5 Februari 1923, di sebuah rumah bergandeng di kampung Pasar Malabero, Bengkulu. Oleh orang tuanya, diberilah nama Fatmawati, yang mengandung arti, Bunga Teratai. Ayahnya bernama Hassan Din dan ibunya bernama Siti Chadidjah. Sebetulnya ayahnya telah menyiapkan dua nama untuk anaknya yang akan lahir, yaitu Fatmawati dan Siti Djubaidah. Namun kemudian nama Fatmawati itulah yang diambilnya. Ayahnya, Hassan Din adalah seorang Pengurus (pemimpin) organisasi Muhammadiyah cabang Bengkulu. Di samping, juga bekerja di Borsumij (Borneo - Sumatra Maatschappij), yaitu sebuah perusahaan swasta milik orang Belanda. Akan tetapi, ketika Hassan Din dihadapkan pada salah satu alternatif pilihan, beliau memilih keluar dari Borsumij, dan lebih memusatkan diri pada Muhammadiyah yang dipimpinnya. Sepasang suami-istri ini selanjutnya terlibat aktif dalam perserikatan Muhammadiyah.




B.       Masa Remaja
Pada umumnya, kehidupan keluarga sangat berpengaruh terhadap masa kecil seseorang. Demikian juga Fatmawati. Sosialisai dan Jati-diri yang Matang Di tengah merebaknya gelombang pergerakan rakyat Indonesia yang telah dibuat sadar karena ulah kaum kolonialis. Bibit jati diri dengan prinsip yang teguh dan kokoh, disertai semangat kemandirian yang kuat telah tersemai dalam masa remaja seorang Fatmawati. Pengaruh sosialiasi melalui ajaran dan pengalaman dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosialnya, telah mampu membentuk karakter Fatmawati, menjadi seorang anak yang tidak sekedar patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk potret kehidupan sosio-kulturalnya.
Sebelum memasuki usia sekolah, Fatmawati kecil ini telah menempa diri dengan “ngaji” belajar agama (membaca dan menulis Al-qur’an) pada sore hari baik kepada datuknya (kakeknya), maupun kepada seorang guru agama, di samping membantu mengurus pekerjaan orang tuanya. Semangat untuk belajar agama secara ekstra terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah masih terus dilakukan meskipun sudah mulai memasuki sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada tahun 1930. Jadwal belajar yang padat dengan pemandangan sehari-hari selalu dijadikannya sebagai bahan ajaran bagi kehidupannya. Bahkan di usia yang masih remaja, atau kalau boleh dibilang masih anak-anak, Fatmawati telah mengalami pencerahan yang cukup matang sehingga mampu melampaui batas-batas nilai kapasitas umumnya anak remaja.
Bersekolah sambil berjualan untuk membantu meringankan beban orang tuanya, menunggu warung, serta berobat sendiri ke rumah sakit, merupakan bukti diri akan semangat kemandirian serta rasa percaya diri yang matang, dan untuk ukuran usia yang baru menginjak tujuh tahun itu sangat mengagumkan. Bahkan salah seorang dari keluarga ibunya sempat geleng-geleng kepala karena dibikin kagum, sambil berkata: “Tema (panggilan akrabnya) tu anak yang pemberani nian, seorang ajo nyo pai ke rumah sakit, idaknyo takut-takut jo dokter”).


C.      Prinsip Anti Poligami.
Antara masa sekolah dan masa perjuangan seringkali begitu akrab bergumul dalam entitas waktu. Oleh karenanya, tidaklah menyurutkan semangat bagi seorang Fatmawati ketika harus berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari rumah yang satu ke rumah yang lain, dari satu sekolah ke sekolah yang lain, mengikuti gerak langkah perjuangan ayahnya selaku pucuk pimpinan perserikatan Muhammadiyah di Bengkulu. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman tersebut justru semakin menempa mentalitas kejuangannya. Terlebih setelah mengenal Bung Karno sebagai gurunya (yang kemudian menjadi kekasihnya), Fatmawati yang baru menginjak usia 15 tahun, telah mampu diajak dalam perbincangan dan diskusi mengenai filsafat Islam, hukum-hukum Islam, termasuk masalah gender dalam pandangan hukum Islam.
Bahkan Bung Karno sendiri sebagai gurunya telah mengakui kecerdasan Fatmawati. Karena jiwa, semangat, dan ketajaman berpikir terhadap ajaran agama Islam yang telah menempanya, serta ketajaman menyikapi fenomena sosio-kulturalnya, beliau mampu mengoperasionalisasikan fungsi rasionalitasnya sebagai pengendali dari unsur-unsur emosi yang selalu merangsang dalam setiap detik kehidupan manusia. Maka, ketika Bung Karno menyatakan keinginannya untuk memperistri beliau, meskipun secara emosional beliau juga terpikat kuat oleh Bung Karno, tetapi beliau tidaklah mudah untuk menerimanya begitu saja. Penolakan tersebut, di samping alasan-alasan yang mendasar, juga rasa emphaty terhadap sesama kaum feminis. Dan disinilah seorang Fatmawati telah matang jiwanya, meneguhkan prinsipnya untuk menolak sebuah tradisi yang bernama poligami, yang dianggap sangat tidak menguntungkan bagi kedudukan dan peranan wanita dalam kehidupan sosialnya. Bahkan kalau boleh dibilang, sebelum lahirnya Undang-Undang Perkawinan maupun Peraturan Pemerintah Republik Indonesia khususnya, bagi pegawai negeri, seorang Fatmawati telah mendahului masanya dengan tekad, sikap, dan prinsip anti poligami. Oleh karenanya, sudah sangat patutlah bagi generasi muda sekarang, khususnya kaum wanita, untuk mensyukuri, menghormati, serta meneladani, nilai-nilai perjuangan Ibu Fatmawati terutama terhadap harkat dan maratabat kaum wanita Indonesia.
D.    Berjuang di tengah Api Revolusi.
Setelah menikah secara wali pada bulan Juni 1943, Ibu Fatmawati segera berangkat ke Jakarta tidak sekedar untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri Bung Karno, pemimpin pejuang rakyat Indonesia, tetapi juga ikut berperan aktif, bergabung bersama para tokoh pejuang nasional lainnya untuk membela Nusa dan Bangsanya. Bahkan Bung Karno selaku pemimpin pejuang tidak ragu-ragu untuk sering meminta pendapat maupun pertimbangan mengenai langkah-langkah perjuangannya. Ketika Ibu Fatmawati ikut hadir pada Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia), dan usai menyaksikan pidatonya Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, yang dikemudian hari dikenal sebagai hari lahirnya Pancasila itu, secara reflektif beliau memprediksikan angannya: “Inilah nantinya yang akan diterima oleh majelis, dan serasa seakan Indonesia Merdeka pada hari itu sudah terwujud”.
Di tengah gejolaknya api revolusi, menjelang kemerdekaan (15 Agustus 1945), sekelompok pemuda pejuang bangsa yang tergabung dalam barisan PETA, telah memaksa Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera meninggalkan kota Jakarta menuju ke Rengasdengklok. Dan dalam situasi yang kritis itu, Ibu Fatmawati dengan semangat reflektif, sambil menggendong anak pertamanya Moh.Guntur yang masih bayi, segera mengayunkan langkah juangnya mengikuti kedua tokoh pejuang bangsa bersama beberapa anggota PETA menuju Rengasdengklok.

E.   Ibu Fatmawati dan Sang Saka Merah Putih.
Perjuangan bangsa Indonesia pada akhirnya telah mencapai titik kulminasi, yaitu dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, 56 Jakarta, oleh Soekarno - Hatta atas nama bangsa Indonesia. Dan bendera Merah Putih pun segera berkibar sebagai wujud simbolis terhadap kebebasan bangsa Indonesia dalam menentukan nasibnya sendiri.
Lalu, siapakah di antara sekian ratus bahkan sekian ribu tokoh pejuang bangsa Indonesia yang telah memikirkan tentang arti sebuah bendera bagi sebuah kemerdekaan bangsa ? Dan kenyataannya selama ini belum pernah ada klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah bendera untuk Kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati.
Atas dasar petikan tersebut di atas, cukuplah jelas, bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera Merah Putih selama satu setengah tahun yang lalu. Dan di sinilah sebuah fakta telah berbicara, bahwa Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang telah beliau sumbangkan kepada Nusa dan Bangsa Indonesia.

F.     Perjuangan Ibu Fatmawati dalam Perang Gerilya.
Semenjak diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, gejolak api revolusi semakin membara. Meskipun mendapat rintangan keras dari bala tentara Jepang maupun tentara Sekutu, para pejuang bangsa Indonesia tetap bertekad bulat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan bangsanya, dan tidak tidak miris sedikitpun menghadapi kaum imperialis dan kolonialis.
Oleh karena situasi keamanan di ibukota Jakarta hingga akhir tahun 1946 dianggap sangat membahayakan, maka pada tanggal 4 Januari 1946, Presiden dan Wakil Republik Indonesia memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta demi keselamatan para pemimpin bangsa maupun pemerintahan Republik Indonesia (30 Tahun Indonesia Merdeka I, 1985:79). Dan sebagai ibu negara, tentu saja Ibu Fatmawati sekeluarga ikut hijrah ke Yogya, meskipun harus melewati pagar berduri.
Selama di Yogya, Ibu Fatmawati tidak saja berperan sebagai pengatur rumah tangga kepresidenan yang setiap saat harus melayani dan menjamu para pejuang yang sering datang hilir mudik. Bahkan beliau tidak segan-segan pernah pergi sendiri tanpa pengawal berbelanja ke pasar (hlm.133). Di samping itu, beliau juga sering mendampingi Presiden ke daerah-daerah baik Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat, untuk memberikan wejangan-wejangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan sekali-kali, beliau dimintai langsung oleh rakyat Ceribon untuk tampil di mimbar.
Ketika terjadi clash II (19 Desember 1948), ibukota Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda, Presiden dan Wakil Presiden ditawan dan selanjutnya di terbangkan ke Bangka (30 tahun Indonesia Merdeka, 1985:191-192). Sementara itu, Ibu Fatmawati sekeluarga, dan keluarga Hatta, serta beberapa menteri, ajudan, maupun sekretarisnya, diizinkan tetap tinggal di Gedung Kepresidenan Yogya sebagai tawanan. Namun tidak lama lagi, seluruh tawanan termasuk Ibu Fatmawati sekeluarga segera diusirnya. Selanjutnya Ibu Fatmawati sekeluarga pindah ke rumah kosong di Batanawarsa, dekat Kali Code. Meskipun pasukan Belanda sering mengawasi rumah yang ditempati oleh beliau, tetapi beliau masih tetap menjalin kontak dengan para pejuang yang bergerilya. Secara sembunyi-sembunyi beliau membantu mengirim perbekalan para pejuang yang bergerilya baik berupa makanan, maupun pakaian. Bahkan beliau pernah menyerahkan beberapa butir pelor yang ditemukan di halamannya untuk diserahkan kepada gerilyawan. Di samping itu, beliau juga membagikan makanan kepada para istri pejuang yang ditinggal bergerilya.

“Biarpun bunga teratai telah membangkai,
kenangan harumnya takkan sirna,
biarlah peristiwa itu telah terlupa,
tapi fakta tetap bicara”







Hikmah yang dapat di ambil dari kisah Perjuangan IBU FATMAWATI

Atas dasar petikan di atas, jelaslah bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera merah putih selama satu setengah tahun yang lalu. Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang telah beliau sumbangkan kepada nusa dan bangsa Indonesia.
Dan sikapnya terhadap prinsip antipoligami yang ada bahkan  sebelum lahirnya Undang-Undang Perkawinan maupun Peraturan Pemerintah Republik Indonesia khususnya, bagi pegawai negeri, seorang Fatmawati telah mendahului masanya dengan tekad, sikap, dan prinsip anti poligami. Oleh karenanya, sudah sangat patutlah bagi generasi muda sekarang, khususnya kaum wanita, untuk mensyukuri, menghormati, serta meneladani, nilai-nilai perjuangan Ibu Fatmawati terutama terhadap harkat dan maratabat kaum wanita Indonesia.
Read More …



Bahasa adalah kapasitas khusus yang ada pada manuasia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh spesifik dari sistem tersebut. Dari pengerian tersebut bahasa merupkan alat komunikasi yang tentunya amat di perlukan dalam mencari pekerjaan, baik dalam proses mencari nya yang membutuh kan informasi dan dalam proses mendapatkan pekerjaan tersebut yaitu pada saat interview, dan juga disaat kita melaksanaakan pekerjaan tersebut.
Bahasa dalam proses mencari kerja sangatlah di butuhkan karena ketika melewati tahapan-tahapan proses mencari kerja tentu nya membutuhkan bahasa yang baik dan benar apakah itu bahasa indonesia atau pun bahasa asing yaitu bahasa inggris. Misalkan dalam proses mencari yaitu kita tentu  butuh bayak informasi yang mana informasi tersebut didapatkan dengan bayak berkomunikasi  dengan orang lain, dan komunikasi tersebut tentu nya membutuhkan bahasa yang baik dan benar karena dengan bahasa baik dan benar  tentu nya orang lain akan menjadi lebih ramah kepada kita dan disegani sehingga dia akan memberikan bayak informasi kepada kita. Contoh misalkan kita datang ke perusahaan  untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan  kebagian informasi perusahaan tersebut akan tetapi kita menggunakan bahasa yang tergolong tidak sopan dan kasar maka tentunya bagian informasi perusahaan tersebut akan malas untuk memberikan informasi yang detai kepada kita.   
Dalam peroses mendapatkan pekerjaanpun masih membutuhkan bahasa yang baik dan benar karena biasa nya perusahaan akan lebih menyukai orang yang lebih pandai dalam berbahasa entah itu bahasa indonesia maupun bahasa asing. Di dalam peroses mendapat kan pekerjaan ada yang nama nya proses interview dimana kita di tanya seputar kehidupan dan kemampuan kita yang tentunya bahasa yang kita gunakan akan menjadi nilai tambah bagi kita. Contoh misalkan ada dua orang yang sedang interview sedangkan yang di butuhkan Cuma untuk satu orang, orang pertama haya bisa menggunakan bahasa Indonesia degan baik dan benar sedangkan orang kedua bisa menggunakan bahasa Inggris dengan fasih dan lancar maka yang keterima adalah orang yang kedua karena memiliki nilai tambah yaitu bisa berbahasa asing.
Di dalam kita bekerja pun bahasa sangat lah dibutuhkan karena biasa nya dalam bekerja akan bayak berkomunikasi dengan temen dan atasan kita tentunya bahasa yang baik dan benar dalam berkomunikasi akan lebih memudahkan kita dalam bekerja dan membuat suasana kerja pun akan lebih menyenagkan. Contoh khasus ketika kita bekerja jarang melakukan komunikasi baik itu dengan teman dan atasan maka kita akan mengalami kesulitan dalam pekerjaan kita, dan apa bila
kita berkomunikasi dengan temen dan atasan dengan menggunakan bahasa yang tidak baik dan kasar maka akan terjadi kurang harmonis di lingkungan kerja kita.
Itulah pentingnya kita mengunakan bahasa yang baik dan benar dan juga menguasai bahasa tidak hanya bahasa indonesia saja melainkan kita pun harus menguasai bahasa asing karena perkembangan jaman maka kita pun dituntut untuk pandai dalam berbahasa asing juga. Marilah mulai sekarang kita belajar menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar dan bahasa asing pun perlu untuk di pelajari dengan baik dan benar juga karena bahasa sangat lah penting dalam kehidupan kita sebagai alat komunikasi yang paling utama.
Read More …



Sebelum kita membahas bahasa sebagai jati diri maka kita harus mengetahui apa itu jati diri terlebih dahulu?. Ada bayak sekali definisi jati diri di antaranya yaitu karakter dasar, adapula yang mendefinisikan jati diri itu adalah diri kita sesungguh nya, dan adapula yang mendefinisikan jati diri adalah aku sejati dan akan diperoleh seiring waktu semakin dewasanya kita. Jadi dengan adanya jati diri pada diri kita maka perilaku kita dapat tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari akan mencerminkan identitas atau jati diri kita. Begitu pula dengan bahsa kesatuan kita yaitu bahasa Indonesia yang merupakan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia karena merupakan identitas kita sebagai orang Indonesia kepada orang-orang negara lain.
Bahasa merupakan elemen penting dalam kehidupan umat manusia. Karena bahasa merupakan alat komunikasi untuk berinteraksi satu sama lain itulah kenapa bahasa maenjadi salah satu faktor krusial dalam kehidupan bermasyarakat di dunia. Bahasa, menurut terjemahan bebas adalah kumpulan kata yang mempunyai makna yang di ucapkan oleh salah satu indera manusia yaitu indera mulut untuk berkomunikasi degan orang lain. Lebih dari itu, bagi sebuah bangsa, terutama indonesia, yang merupakan negara majemuk, dengan multi suku, ras, agama, dan bahasa daerah yang beragama, maka bahasa merupakan sebuah alat persatuan bahasa. Indonesia yang memiliki populasi ratusan jiwa, yang tercatat memiliki dari 700 bahasa daerah, maka bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki peran penting sebagai sebuah media untuk meyamakan sekat-sekat dari beragam masyarakat dalam berkomunikasi karena adanya perbedaan bahasa dari setiap daerah di Indonesia.
Sebagai bahasa persatuan pun Bahasa Indonesia akhir-akhir ini semakain tersingkirkan, karena sekarang banyak penggunaan ejaan bahasa yang sering salah dan mencampuradukan bahasa yang seharusnya hal itu tidak boleh terjadi karena bahasa indonesia mempunyai kaidah-kaidah yang sudah di tentukan. Dan akhir-akhir ini bayak sekali masyarakat indonesia yang lebih tertarik mempelajari bahasa Inggris, bahkan ada pula yang mengajarkan bahasa inggris kepada anak nya sehingga anak tidak pasih berbahasa indonesia. Sudah sepatut nya kita bangga dan terhadap bahasa persatuan negara kita yaitu bahasa Indonesia dan kita terus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak kasar agar cerminan diri kita dan bangsa kita menjadi baik di mata orang dan bangsa lain.


Bahasa yang kita gunakan sesungguh nya mencerminkan diri kita apakah diri kita berpendidikan atau tidak, diri kita cerdas atau tidak  karena biasa nya orang yang berpendidikan bahasa yang di gunakannya akan lebih baik dan sopan dalam berbahasa dan biasa nya juga bahasa  juga mencerminkan kercerdasan seseorang. Maka kita harus pandai dalam mengunakan setiap bahasa dan juga kita harus bisa menempatkan bahasa yang akan kita gunakan sehingga kita tidak terlihat bodoh karena meskipun kita sudah benar dalam berbahasa dan bahasa itu merupakan bahasa yang intelektual namun kita salah dalam menempatkan bahasa itu maka kita akan terlihat bodoh, maka kita pun perlu mengetahui dimana dengan siapa dan dalam kesempatan apa kita berbicara maka kita harus mengetahui sebaik nya bahasa yang kita gunakan yang sesuai dengan kesempatan tersebut.
Karena sangat pentinggnya berbahasa untuk menunjukan jati diri kita marilah kitapelajari bahasa dengan baik dan benar dalam hal ini kita sebagai warga negara Indonesia maka bahasa yang harus di pelajari dengan baik dan benar yaitu bahasa indonesia yang utama namun karena seiring dengan perkembangan jaman bahasa asing pun perlu untuk di pelajari namaun kita jangan melupakan bahasa persatuan bahasa Indonesia.
Read More …

1. Aku yakin bahwa rezekiku tidak tertukar, karena itu hatiku tenang.

2. Aku yakin amalku tidak mungkin digantikan oleh yang lain, karena itu aku semangat beribadah.


3. Aku yakin bahwa Allah mengawasiku, karena itu aku malu bermaksiat.


4. Aku yakin bahwa mati selalu membuntutiku, karena itu aku selalu siap menghadapinya.
Read More …

Wanita yang berwajah cantik dan memiliki kemolekan tubuh yang sempurna tentu menjadi dambaan setiap laki-laki. Begitu juga sebaliknya, sikap wanita terhadap pria yang gagah dan tampan.

Bila kecantikan wajah dan kemolekan tubuh di hiasi pula dengan akhlak yang baik, tentu istri yang demikian akan sangat membahagiakan.

Namun bila kecantikan wajah tidak di hiasi dengan kebagusan akhlak, belum tentu cantik itu membahagiakan, sebaliknya besar kemungkinan malah akan menyengsarakan.

Berhati-hatilah jika menikahi wanita berdasarkan kecantikannya, sebab kecantikan terkadang dapat membawa fitnah bagi istri itu sendiri, dan juga bagi suami, jika suami itu hampa dari agama.

Terkadang justru wanita yang cantik, ternyata mudah sekali terpedaya dengan kecantikannya sendiri. Menimbulkan sifat sombong ketika di hadapkan kepada ucapan-ucapan dusta yang berkilau cahaya, ketika perhatian orang tertuju kepadanya.

Kecantikan juga dapat menyibukkan dirinya, hingga lalai terhadap kewajibannya sebagai seorang istri. Lebih-lebih jika terlalu berlebihan dalam memperhatikan kecantikan lahiriah dan bentuk tubuh yang molek saja. Kemudian melupakan kecantikan akhlak yang akan mempercantik jiwa dan mengokohkan agamanya. Kecantikam akhlak yang akan membawanya kepada ke Ridhaan Illahi dan suaminya.

Astaghfirrullah hal adzim...!!!! sadarkah saudariku.... kecantikan juga pada akhirnya tua, keriput dan mati di makan cacing tanah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,,
" Di nikahi perempuan karena empat perkara, yaitu karena kekayaannya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Tetapi pilihlah berdasarkan agamanya, agar selamatlah dirimu" (HR.Bukhari Muslim)

Semoga kita tidak salah dalam menentukan pilihan. Tetapi perbaikilah diri sendiri dulu untuk menjadi lebih baik, sebelum engkau mencari yang terbaik.

Mari Menata Hati Menggapai Ridha Illahi Illahi
Merengkuh Indahnya Cinta Dalam Ridha_Nya
Read More …

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

Hidup ini pilihan,
mau mu'min silahkan,
mau kafir juga silahkan,
mau tahajjud silahkan,
mau tidur lelap juga silahkan atau begadang semalam suntuk,
mau jujur silahkan,
mau dusta juga silahkan,
mau makan yg halal silahkan,
mau makan yg haram silahkan,
mau nikah silahkan,
mau berzina silahkan,
mau menutup aurat silahkan,
mau tidak juga silahkan,
mau berbhakti pada orang tua silahkan,
mau durhaka juga silahkan...

Tetapi INGAT!
Sangat BERBEDA mereka yang BERIMAN yang SUNGGUH-SUNGGUH TAAT dengang mereka yang ma'siyat, semua pilihan perbuatan ada konsekwensinya.

"Sesungguhnya mrk yg beriman yg disibukkan dg kebaikan akan meraih Syurga dg segala kenikmatannya, & sesungguhnya mrk yg asyik dg dosa ma'siyat akan masuk neraka jahannam dg segala dahsyat siksanya" (QS Al Infithor : 13-14).

Jadi, JANGAN karena ENAK MA'SIYAT SESAAT lalu MENDERITA di AKHIRAT"
Read More …

Tumblr

Twitter